Alternatif Energi 3B: Bobibos, B50 Sawit dan B100 Pongamia
Berbagai alternatif energi terbarukan sedang digencarkan pengembangannya di Indonesia karena sifatnya yang ramah lingkungan dan ketersediaannya yang melimpah dari alam. Meskipun Bobibos telah diluncurkan, masih ada perdebatan ilmiah mengenai efisiensi dan dampak jangka panjangnya yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Sedangkan untuk B50 Sawit B50 menuai perdebatan karena bisa berdampak terhadap harga minyak sawit lokal, terutama diperiode menjelang bulan Ramadan. Sehingga sulit dicapai, meskipun pemerintah tetap mendorong agar implementasi B50 bisa direalisasikan pada tahun 2026.
Ada potensi diluar bobibos dan B5O, yaitu pongamia. kenapa pongamia? kualitas biofuel pongamia atau nama daerah malapari memiliki kualifikasi B100 yaitu komposisi sepenuhnya dari biofueltersebut dapat langsung digunakan pada mesin diesel tanpa harusmemodifikasi mesin. Kualitas biofuel P. pinnata telah memenuhi standard SNI 04-7182-2006 untuk biodisel (BSN, 2006). Pengembangan P. pinnata skala operasional lapangan dilaporkan telah diterapkan di Australia. Potensi P. pinnata sebagai sumber biofuel yang potensial juga telah dilaporkan oleh Daniel et al., (2006).
Salah satu energi alternatif berbasis teknologi yang prospektif untuk dikembangkan adalah energi dari biofuel. Peran sektor kehutanan dalam mendukung kebijakan Energi Nasional yang telah menetapkan target menyediakan alternatif bahan bakar terbarui sebesar 5% dari kebutuhan minyak nasional hingga tahun 2030 serta target waktu yang tidak terlalu lama. Salah satu tanaman alternatif yang ditetapkan untuk mendukung program pengembangan biodisel tersebut adalah Pongamia pinnata.
Program pengembangan pongamia memiliki nilai strategis dimasa mendatang sebagai upaya memenuhi berbagai tujuan ekologi, diversifikasi produk sumber energi yang terbarukan telah ditetapkan sehingga upaya kongkrit menjadi prioritas yang mendapat dukungan dari pihak-pihak terkait. Pengembangan pongamia tidak akan mengganggu ketersediaan minyak nabati untuk pangan dan sejalan dengan program untuk mendukung mengantisipasi kelangkaan bahan bakar fosil yang cadangannya di Indonesia diperkirakan tinggal 3,9 milyar barrel atau hanya cukup untuk 11 tahun kedepan.
Bukan hanya biodiesel, kasta tertingi dari pongamia adalah bahan bakar biojet. Sebagian besar pesawat menggunakan bahan bakar jet konvensional, yang tidak terbarukan, mahal, dan mengeluarkan emisi karbon dalam jumlah besar (80%). Misalnya, satu ton bahan bakar jet konvensional mengeluarkan 0,8-ton karbon saat dibakar. Oleh karena itu, industri penerbangan sedang mencari bahan bakar jet terbarukan.
Penerbangan memiliki pilihan bahan bakar terbarukan alternatif yang terbatas yang dapat menggantikan bahan bakar fosil. Bahan bakar jet biojet dapat menjadi alternatif yang layak bagi industri penerbangan. Camelina sativa, Jatropha spp., Elaeis guineensis, dan alga telah digunakan untuk memproduksi bahan bakar dalam beberapa uji terbang.
Berbeda dengan Sawit, indukan Pongamia ada di Indonesia. Pongamia pinnata menyebar secara luas di Indonesia dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggaran Barat, Papua hingga kepulauan Maluku. P. pinnata dikenal memiliki spektrum pemanfaatan yang luas antara lain sebagai bahan bakuindustritanin, perkayuan, obat-obatan, pakanternak, pelindungabrasi, konservasi daerah pantai dan sebagai pupuk hayati nitrogen karena kemampuannya dalam membentu knodul dan bersimbiose dengan bakteri pemfiksasi nitrogen.
Oleh: Dr.(c) Dadang Gusyana, S.Si, MP.

