Peta Pengembangan dan Investasi Kebun Pongamia pinata
DR (Cand) Dadang Gusyana, S.Si. MP
Pengembangan Berdasarkan Wilayah
Indonesia
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara aktif mengembangkan kebun bibit unggul di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Fokus utama adalah pemanfaatan lahan kering dan marginal sebagai basis produksi biodiesel dan biofuel ramah lingkungan.
India
Merupakan negara asal tanaman ini (Indian Beech), di mana minyak Karanja (nama lokal) telah lama digunakan sebagai bahan bakar lampu dan kini dikembangkan secara masif untuk sektor industri.
Amerika Serikat (Florida)
Perusahaan seperti Terviva mengonversi lahan bekas perkebunan jeruk di Florida menjadi hutan Pongamia untuk memproduksi minyak yang dapat digunakan sebagai bahan bakar jet berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel).
Australia
Departemen Pertanian Australia melakukan riset pengembangan di Northern Territory untuk menguji potensi Pongamia sebagai tanaman biodiesel di lahan yang bergantung pada curah hujan saja.
Estimasi Biaya Investasi Per Hektar
Investasi malapari seringkali lebih efisien dibanding kelapa sawit karena kemampuannya tumbuh di lahan marginal tanpa perawatan intensif.
Modal Awal Penanaman:
Estimasi biaya pembangunan kebun berkisar antara Rp 30.000.000 – Rp 45.000.000 per hektar, tergantung pada kondisi lahan dan jarak tanam.
Komponen Biaya Utama:
Bibit Ungul:
Malapari membutuhkan bibit berkualitas (seperti hasil riset BRIN) untuk menjamin kadar minyak tinggi.
Persiapan Lahan:
Pembersihan lahan dan pembuatan lubang tanam.
Perawatan (3-5 Tahun):
Biaya pupuk dan tenaga kerja hingga pohon mulai berbuah produktif.
Potensi Pendapatan:
Minyak:
Menghasilkan sekitar 400–500 galon minyak per acre (setara ~3.700–4.600 liter/hektar), jauh lebih tinggi dari kedelai.
Produk Sampingan:
Sekitar 70% dari hasil panen berupa bungkil biji yang dapat dijual sebagai pakan ternak berprotein tinggi, menyumbang hampir setengah dari total pendapatan proyek.

